Mesjid de-a, beberapa tahun lalu… Suasana setelah shalat maghrib berjama’ah usai selalu menyenangkan: setelah santri yang memimpin tadarus mengucap shadaqallaahul ‘azhiim, sebagian santri serentak berhamburan keluar. Tetapi sebagian masih ada yang tinggal di dalam mesjid. Beberapa diantaranya membuka Al-qur’an dan menderas dengan khusyu, ada yang shalat sunat rawatib, ada pula yang asyik mengobrol dengan kakak/adik kelasnya sementara di tengah-tengah mesjid sekumpulan santri duduk melingkar menghafalkan qur’an (sepenggal fregmen ini ternyata begitu indah dikenang kita berjarak darinya) Maghrib itu sebetulnya sama dengan maghrib-maghrib sebelumnya. Tetapi hari itu sepertinya ada yang berbeda: seorang adik kelas menghampiri saya, kami ngobrol dan ujung-ujungnya dia curhat. Rupanya, dia merasa sulit , bahkan tak bisa berubah karena ia menganggap ada cap yang telah melekat pada dirinya. “Saya mah baong” katanya waktu itu. Seingat saya, saat itu saya berusaha menjawab sebisanya, sekuatnya memotivasinya agar tak terlalu berpandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Namun terus terang, saya juga tak yakin apakah saya bebas dari stereotip semacam itu terhadap diri saya sendiri. Cap, stereotip, stigma, entah apa lagi padanan katanya, sepertinya memang akrab menemani kehidupan kita seperti sikat gigi. Sayangnya, kadang akibatnya negatif. Stigma kekerasan yang dilekatkan pada umat islam dunia hari-hari ini misalnya. Ah, saya belum sanggup berbicara hal-hal yang tinggi dan pekat seperti itu. Kembali ke cerita adik kelas tadi, tentu lingkungan banyak mempengaruhinya. Mungkin saja ia sering dihukum pembina, mungkin saja teman-teman nya menjulukinya “baong “ , mungkin saja orang-orang terdekatnya di rumah menganggapnya demikian. Celakanya, sebagaimana layaknya remaja yang sedang mencari identitas, semua cap itu ia telan bulat-bulat begitu saja seperti setengah butir telur rebus yang biasa kita makan waktu sarapan. Maka, jadilah cap itu mempengaruhinya, tingkah laku, karakter, bahkan mungkin juga nasibnya. Remaja ya, hmm, berarti kita yang sudah kolot ini tak akan terjangkit penyakit seperti itu? ^_^. Nah, itulah masalahnya, sindrom cap ini sepertinya menghinggapi hampir semua lapisan usia. Jika kita jujur pada diri kita sendiri, bukankah kita juga hidup diatas persepsi-persepsi semacam itu? Seringkali lingkungan sekitar kita membentuk kita, membuat sekat-sekat dalam jiwa, membatasi kita begitu rupa dengan sesuatu yang tak terlihat. Mungkin tak sepenuhnya salah kita. Saya awam soal pendidikan tetapi sedari kecil sepertinya kita memang biasa dihadapkan pada oposisi biner yang radikal: pintar-bodoh, bageur-baong, rajin-malas, dll. Anak-anak kelas 1 eSDe sudah dicap dengan nilai-nilai angka, padahal karakter mereka yang halus masih sering membanding-bandingkan dirinya dengan teman-teman nya, juga menjadikan nilai itu patokan untuk mencap dirinya. Di waktu remaja, seringkali ada pengelompokkan baik-nakal secara berlebihan. Dan inilah kita sekarang, generasi yang tumbuh dari cap-cap semacam itu. Semuanya tentu sedikit banyak akan berpengaruh kepada kita. Cap yang kita lekatkan pada diri kita akan mempengaruhi cara pikir, sikap, dan karakter kita. Makannya hati saya bungah ketika dulu di de-a teman teman berteriak bahwa kita semua sejatinya punya potensi yang sama. Mungkin benar kata seorang guru di sebuah sekolah alam, tak ada anak yang pntar atau bodoh, semua anak adalah yang terbaik di bidangnya masing-masing. Bila pernyataan ini diperluas lagi, kita semua tak ada yang pintar-bodoh, bageur-baong, rajin-malas, dll. Semua adalah yang terbaik di bidangnya masing-masing. Lalu apa yang terjadi dengan diri kita selama ini? Mengapa kita, termasuk saya, terkadang sulit mengeluarkan potensi-potensi positif yang ada pada diri? O…mungkin kita memang belum terbebas dari cap-cap semacam itu, masih sering mendengar suara-suara negatif dari luar yang sebetulnya dtangkap, dipantulkan, dan digemakan di benak-benak kita oleh diri kita sendiri. Maka, ada saatnya kita menolak cap-cap semacam itu, ada saatnya kita menutup telinga, ada saatnya kita tidak mendengar suara-suara negatif dari luar dan dari dalam diri kita sendiri. Mendengarkan masukan orang lain memang baik sekali, tetapi ketika kita terlalu banyak mengikuti suara-suara negatif dalam diri kita, dan mengabadikan diri kita dengan stigma negative itu, aka nada banyak peluang yang terbuang, aka nada banyak hal postitif dalam diri kita yang tak keluar. Seandainya Rasulullah SAW dulu mendengar, menangkap, dan berbuat di atas persepsi orang-orang yang mengatakan beliau gila, barangkali peradaban gemilang di Madinah takkan pernah terwujud. Jika saja alm Pak Miskun menyerah pada berbagai tantangan dari luar ketika masa-masa awal mendirikan pesantren, mungkin hingga sekarang pesantren tercinta in takkan pernah ada. Kalau dulu Einstein terlalu mendengarkan perkataan gurunya yang menyatakan perkembangan otaknya lambat, barangkali nobel fisika itu akan jatuh ke tangan orang lain. Kalau saja Mandela menelan bulat-bulat stigma kulit hitam selalu di bawah kulit putih, spertinya kisah perjuangannya bersama African National Congress dan rakyat Afrika Selatan menghapus apartheid takkan pernah terjadi. Seandainya si ikal Andrea Hirata menerima begitu saja cap sebagai melayu miskin, barangkali ia akan seumur hidup menjadi kuli ngambat da Prancis hanya akan menjadi sekedar mimpi-mimpi sunyi. Begitu banyak contoh, begitu banyak ide. Terakhir, izinkan saya mengutip salah satu bagian menarik dari komik kungfu boy yang dulu pernah saya baca. Alkisah, guru Chinmi memperlihatkan kepadanya dua ekor serangga. Yang satu meloncat tinggi sekali, sementara yang kedua meloncat pendek saja. Ternyata yang pertama adalah serangga yang hidup di alam bebas sedangkan yang kedua hidup dalam sangkar sempit. Sebagian manusia, guru itu menjelaskan, ada yang bisa diumpamakan dengan serangga pertama itu. Manusia terkadang membatasi dirinya dengan dua hal: putus asa dan puas diri. Mudah-mudahan kita, terutama saya, bisa menerobos cap-cap itu: tidak putus asa untuk terus berubah dan tidak merasa puas diri sehingga sadar bahwa kita selalu perlu untuk terus berubah menjadi lebih baik lagi.
Semoga
ibad
|